الأربعاء، 16 يناير، 2013

skarifikasi dan penyemaian benih


SKARIFIKASI DAN PENYEMAIAN BENIH
 (Laporan Praktikum Fisiologi Pohon)




Oleh
Ardiyansa Dwi Saputra
1014081054








JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012

I.       PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Benih yang mengalami dormansi seharusnya diberi perlakuan pematahan dormansi.  Dormansi pada benih memiliki keuntungan dan kerugian dalam pengelolaan benih pohon.  Salah satu keuntungan adanya sifat dormansi benih adalah menyebabkan benih dapat disimpan dalam jangka waktu lama pada kondisi lingkungan tempat penyimpanan yang sesuai.  Bahkan dalam kegiatan penyimpanan benih, sesungguhnya merupakan usaha untuk membuat benih menjadi dorman, tidak berkecambah selama disimpan, tidak terserang hama/penyakit selama disimpan, dan tetap viabel ketika benih tersebut dikecambahkan.
Adapun kerugian adanya sifat dormansi benih adalah menunda perkecambahan benih walaupun benih tersebut sudah diletakkan pada tempat yang memenuhi syarat terjadinya proses perkecambahan.  Benih yang tertunda berkecambah ketika dikecambahkan menyebabkan memiliki resiko besar antara lain perkecambahan terjadi tidak serempak, kecambah yang tumbuh tidak seragam, mudah terserang penyakit, kehilangan energi perkecambahan, bahkan bisa mati karena terlalu lama mengalami dormansi.  Oleh karena itu, dormansi harus ditangani sebelum benih dikecambahkan agar benih segera berkecambah dengan daya kecambah sesuai dengan besarnya viabilitas yang dimiliki (Indriyanto, 2011).

B.  Tujuan

     Adapun tujuan dari skarifikasi dan penyapihan benih yaitu sebagai berikut.
1.    Mampu mengidentifikasi tipe dormansi benih.
2.    Mampu menentukan cara skarifikasi benih sesuai dengan tipe dormansinya.
3.    Mampu menyemai benih secara baik dan benar.

II.    TINJAUAN PUSTAKA

Kecepatan berkecambah ada hubungan nya dengan vigor benih, benih yang kecepatan berkecambahnya tinggi, tanaman yang dihasilkan cenderung lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang sub optimum ( kurang ideal ).  Adapun kecepatan berkecambah dikatakan tinggi apabila pada hari tersebut diatas benih yang berkecambah lebih dari 75 %.   Pengertian vigor benih disini adalah kemampuan sekelompok / sejumlah benih untuk berkecambah normal pada lingkungan sub optimal ( kondisi lapangan ) secara serentak. Secara matematis kecepatan berkecambah dinyatakan dengan Coeficient Germination (Anonymous, 2010).

Perendaman benih dalam air sebelum penyemaian sangat berguna untuk proses perkecambahan.  Penyerapan air oleh benih terjadi pada tahap pertama berguna untuk melunakkan kulit.  Menurut Kamil (1979) air harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk pelunakkan kulit, memberi fasilitas masuknya oksigen, mengencerkan protoplasma untuk mengaktifkan bermacam-macam fungsinya dan sebagai alat transportasi larutan makanan dari endosperm atau kotiledon dengan titik tumbuh pada embryonic axic.  Sutopo (1985) berpendapat bahwa enzim-enzim di dalam biji distimulasi oleh Gibberellic Acid (GA3) bahwa suatu hormon tumbuh yang dihasilkan oleh embrio setelah menyerap air.
Daya kecambah pada benih memberikan informasi kepada para pemanfaat benih mengenai kemampuan benih tumbuh menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapangan yang serba optimum.  Parameter yang digunakan yaitu berupa persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur tunbuh embrio yang diamati secara langsung.  Persentase perkecambahan adalah persentase kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan (Sutopo, 2004).

Perkecambahan pada biji dapat dibedakan atas dua macam proses, yaitu proses perkecambahan fisiologis (phisiological process) dan proses perkecambahan morfologis (morphological process).  Pada proses perkecambahan fisiologis, secara biologis terjadi beberapa proses berurutan selama perkecambahan buji berlangsung yaitu penyerapan air (water absorption), ernaan (digestion),  pengangkutan zat makanan (food transfer), asimilasi, pernapasan (respirasi), dan pertumbuhan yang masing-masing memiliki fungsi dan peranan yang menunjang terjadinya proses perkecambahan.  Sedangkan proses perkecambahan morfologis merupakan proses tahapan segera sesudah proses pengangkutan makanan dan pernapasan yang masih meliputi pembelahan sel dan pemanjangan sel, akan tetapi lebih dikaitkan dengan pertumbuhan embryonic axis yang dapat dilihat dan diamati dengan mata telanjang yaitu keluarnya radicle dan plumule dari kulit biji.  Secara morfologis sulit ditentukan dengan pasti kapan perkecambahan biji berakhir dan pertumbuhan dimulai.  Hal ini disebabkan oleh karena dalam praktek sehari-hari kita menentukan suatu biji berkecambah apabila telah kelihatan keluarnya radicle tau plumule dari kulit biji.  Sedangkan, sebelumnya keluarnya radicle atau plumule itu sendiri adalah hasil akibat dari proses pertumbuhan yang telah terjadi dimana disebabkan oleh pembelahan sel, pemanjangan sel atau kedanya sekaligus (Kamil, 1986).

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق